PBB meluncurkan proyek pengembangan kota terapung “Oceanix City”

Hasil gambar untuk oceanix city

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah meluncurkan rencana untuk kota terapung yang dirancang oleh Bjarke Ingels dan Oceanix.

Desain kota di tepi pantai dirancang untuk bencana alam seperti banjir, tsunami, dan badai.

Menurut PBB, rencana kota juga dapat melindungi populasi dari kenaikan permukaan laut di berbagai negara.

Kota ini sedang dibangun 1,6 kilometer dari pantai terdekat. Struktur juga dapat dipindahkan ke area keamanan berikutnya jika terjadi sesuatu.

“Semua orang di tim ini ingin kota terapung ini dibangun,” kata Marc Collins, CEO Oceanif, Kamis (4/4/2014) yang dikutip oleh Business Insider.

Namun, pendanaan untuk implementasi konsep Oceanix City masih diperlukan.

Oceanix City adalah kota tepi laut yang terdiri dari serangkaian struktur heksagonal.
Struktur ini kemudian disusun untuk membentuk segi enam yang lebih besar. Setiap struktur heksagonal yang lebih kecil dapat menampung hingga 300 orang.

Mengapa bentuk heksagonal dipilih?

Menurut tim arsitek, bentuk ini dianggap yang paling efisien dalam arsitektur. Dengan proyek ini, tim arsitek ingin meminimalkan konsumsi material.

Tim desain mengatakan ada total enam desa di satu kota. Setiap desa terdiri dari kumpulan enam struktur heksagonal.

Di kota terapung, maka hiduplah sekitar 10.000 penduduk.

Bjarke Ingels mengatakan populasi ini adalah jumlah yang ideal. Ini karena kota terapung dapat menghasilkan listrik, air bersih dan panas.

Struktur kota terbuat dari bahan Biorock, yang diperoleh dari ekstraksi mineral di bawah air. Dalam proses ini, lapisan limescale tiga kali lebih keras dari beton, tetapi bisa melayang.
Hanya bahan Biorock ini yang semakin kuat seiring bertambahnya usia dan bahkan dapat diperbaiki saat terkena aliran.